Blog
Pengasuhan Adalah Dua Tangan: Mendudukkan Kembali Tanggung Jawab Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak
- Desember 22, 2025
- Posted by: Nur Aini S.Kom.i, C.PC
- Category: Uncategorized
Pengantar
Dalam banyak lapisan masyarakat,masih kuat tertanam anggapan bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu semata. Ayah seringkali diposisikan hanya sebagai “penopang finansial” yang perannya berakhir setelah pulang kerja. Ungkapan seperti “Itu kan urusan emak-emak” atau “Tanya saja sama ibumu” menjadi cermin dari pola pikir yang membagi peran secara timpang. Ibu, baik yang bekerja maupun tidak, kemudian memikul beban ganda: mengurus rumah tangga sekaligus menjadi satu-satunya tumpuan utama untuk segala hal terkait anak.
Seharusnya,pengasuhan dipahami sebagai sebuah kemitraan tim yang setara antara ayah dan ibu. Anak membutuhkan kehadiran, interaksi, dan pengasuhan dari kedua figur utama dalam hidupnya—masing-masing membawa warna, pendekatan, dan kekuatan yang unik. Ayah bukan sekadar “wakil” atau “pengganti” ibu saat ibu sibuk, melainkan sosok dengan kontribusi fundamental yang tidak tergantikan dalam membentuk kepribadian dan ketangguhan anak.
Dampak dari mitos “hanya ibu yang bertanggung jawab” ini sangat serius dan berlapis. Pertama, ibu mengalami kelelahan psikologis yang kronis (parental burnout), stres, dan merasa sendirian dalam perjalanan besar mengasuh anak. Bagi ibu yang juga bekerja, beban ini menjadi berlipat ganda. Kedua, anak menjadi pihak yang dirugikan paling besar. Mereka kehilangan kesempatan untuk berkembang secara optimal dengan mendapatkan nutrisi emosional dan sosial dari dua sumber yang berbeda. Ketidakhadiran ayah secara psikologis dalam pengasuhan menciptakan kekosongan yang berpengaruh hingga anak dewasa.
Pokok masalahnya adalah penyempitan makna”pengasuhan” menjadi sekadar “pengurusan kebutuhan sehari-hari” (feeding, bathing, dressing) yang lalu dialamatkan hanya kepada ibu. Padahal, pengasuhan mencakup pendidikan, pembentukan karakter, pemberian rasa aman, dan stimulasi perkembangan—yang semuanya membutuhkan kontribusi aktif dari ayah. Tesis kami tegas: Ayah memiliki tanggung jawab pengasuhan yang setara dan khas, yang kehadirannya tidak boleh diabaikan bagi perkembangan holistik anak.
Pembahasan
1. Peran Ayah: LebihdariSekadarPencariNafkah
Peran ayah dalam pengasuhan bersifat unik dan komplementer.Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kehadiran dan keterlibatan ayah yang aktif berkontribusi pada:
· Pembangunan Kepercayaan Diri dan Identitas: Interaksi ayah yang seringkali lebih mendorong eksplorasi dan mengambil risiko terukur membantu anak, terutama di usia dini, untuk percaya pada kemampuannya. Pujian dan pengakuan dari ayah memiliki bobot khusus dalam membangun harga diri anak.
· Pembentukan Ketangguhan dan Keberanian: Ayah cenderung mendorong anak untuk mencoba hal baru, bangkit dari jatuh, dan melihat masalah sebagai tantangan. Ini melatih resilience (daya tahan) mental anak.
· Pengaturan Emosi dan Keterampilan Sosial: Anak yang dekat dengan ayah cenderung lebih baik dalam mengelola emosi dan memiliki kemampuan sosial yang lebih matang. Figur ayah membantu anak, baik laki-laki maupun perempuan, memahami dinamika hubungan yang lebih beragam.
2. TumbuhKembangOptimal SaatAyah dan Ibu HadirBersama
Kehadiran kedua orang tua yang terlibat aktif menciptakan ekosistem perkembangan yang seimbang dan kaya.Ibu sering diasosiasikan dengan kehangatan, kelembutan, dan rasa aman (nurturing). Sementara ayah sering diasosiasikan dengan permainan fisik, petualangan, dan dorongan untuk mandiri (challenging). Kombinasi kedua gaya pengasuhan ini:
· Memberikan anak model relasi yang sehat dan setara antara laki-laki dan perempuan.
· Menciptakan rasa aman yang lebih komprehensif. Anak merasa dilindungi dan didukung oleh sebuah “tim” yang kokoh.
· Mencegah gangguan perkembangan sosial-emosional di kemudian hari. Studi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah yang rendah berkorelasi dengan meningkatnya risiko masalah perilaku, prestasi akademik yang lebih rendah, dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat saat dewasa. Saat ayah tidak hadir, anak kehilangan salah satu pilar penting pembentuk karakternya.
Penutup
Pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan dua tangan:ayah dan ibu. Mengabaikan peran dan tanggung jawab ayah bukan hanya merugikan ibu dengan beban yang berlebihan, tetapi terutama merampas hak anak untuk tumbuh secara utuh dan optimal. Keterlibatan ayah membawa dampak spesifik pada pembangunan karakter, ketangguhan, dan kepercayaan diri anak yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh peran ibu.
Mari kita tinggalkan paradigma usang yang memenjarakan ayah hanya pada peran”uang” dan ibu pada peran “urusan anak”. Setiap anak berhak mendapatkan cinta, waktu, dan bimbingan dari kedua orang tuanya. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukanlah “bantuan” untuk ibu, melainkan pemenuhan kewajiban dan haknya sebagai seorang ayah. Ketika ayah dan ibu berjalan beriringan sebagai mitra sejati dalam pengasuhan, yang kita ciptakan bukan hanya anak-anak yang lebih tangguh, tetapi juga rumah tangga yang lebih harmonis dan setara. Pada akhirnya, masyarakat yang kuat dibangun dari keluarga-keluarga di mana kedua orang tua hadir penuh, tidak hanya secara fisik, tetapi secara hati dan tanggung jawab.
Author:Bunda Aini
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
[vc_row full_width=”” parallax=”” parallax_image=””][vc_column width=”1/1″][vc_widget_sidebar sidebar_id=”default”][/vc_column][/vc_row]